Showing posts with label NOVEL. Show all posts
Showing posts with label NOVEL. Show all posts

Friday, March 8, 2019

PENGUSAHA MUDA (7)

PINJAM UANG KE BANK

Ketika selesai menjual getah Tumpak berbicara tentang rencana membangun warung menjadi  kios permanen disamping kiri rumah Tumpak di kampung. Mata mamanya memperhatikan dari jauh gerak gerik putrinya.
"Berapa sekarang rata rata omzet kios per hari ?"
"Masih kecil Lian, sekitar Rp 1 juta lah"
"Untung 10%  ,bisa Rp 3 juta sebulan untungnya, lumayan"
"Saya kenal distributor di Medan bisa drop barang, nambah jenis barang"
"Pembayarannya bisa kosinyasi kan"

"Bagimana pembagian keuntutngan ?"
"Seperti biasalah Tumpak 60 : 40, setuju ?"
"Pelit sekali kau Lian dasar..., gimana kalau 80 : 20 ?"
"Ya sudah ditengah tengahlah 70 :30"
"Tengah tengahnya itu 75 : 25"
"Ok, Ok, 75 : 25", sambil salaman dan senyum senyum. Mata mamanya melotot dari jauh, seperti bertanya tanya arti senyum dan salaman itu
"Lian bikinkan Surat perjanjiannya ya, jika aku ada uang hutang Rp 25 juta, kulunasi hutang,, perjanjian kita stop, putus"
"Papa, ma, sudah sepakat pembagian 75 : 25%"
"Bagus bagus", kata papanya ikut senyum.
"Papa pinjam sopir ya, kami mau lihat dulu kios Tumpak di kampung"

"Pak, kiosnya dibuat satu lantai atau ruko ?"
"Satu lantai saja, kalau sudah ramai bikin 2 lantai bisa", kata Tumpak diyakan bapaknya Tumpak dengan senyum dan mengangguk.
"Berapa lamai nanti selesai, baru kita ngomong sama distributor"
"Sebentar, 2 minggu juga jadi"
"Tempat jual bensin, gas dan minyak tanah dipisah saja"
"Pokoknya secukup Rp 25 juta lah"

Menjelang sore, pulang ke Sibolga, mereka mampir di rumah Longga.
"Selamat sore, Longga, apa khabar?", sambil masuk keruang tamu.
Tumpak permisi mau ke kamar mandi :"Jojor mana ?"
"Nanti kuberitahu bang"
"Minum tehnya Lian, ini kue kampung, pisang goreng, makanlah". sambil menyodorkan piring pisang goreng. Su Lian mengambil dan memakannya.
"Tadi dari mana ?"
"Lihat kios tumpak mau dibesarkan jadi permanen, ganti dinding papannya"

"Tamba tehnya boleh Longga, Jojornya mana ya, mandinya lama sekali"
"Ini bang tehnya, Jojor lagi tidak enak badan katannya", kata Longga pada hal Jojor sudah bisik kakaknya dia tidak mau ketemu karena ada Su Lian.
"Ya sudah, jadi tidak jadi nonton nih, ya permisi pulang ya, salam sama Jojor.

Hari Selasa minggu depannya Tumpak menjemput ke sekolah Longga persis waktu istirahat mau diajak ke Bank BRI Unit Singamangaraja, mau diambilkan formulir Tabungan buat papanya karena mau menabung seperti Tumpak. Tapi urusan utamanya mau urus pinjaman dan menyerahkan dokumen. Longga ikut mendengar tanya jawab antara Mantri kredit dengan Tumpak, karena mereka kira pacar atau adiknya.
"Berapa pinjaman yang perlu untuk bisnis getahnya ?"
"Perlunya Rp 15 juta, tapi tidak untuk bisnis getah saja bang, punya kios juga serta jual bensin"
"Omzet sehari totalnya berapa ?"
"Ini bang buku tabungan semua transaksi masuk keluar ada disini karena aku setor semua ke bank, terus aku mau lunasi hutang ke toke Rp 5 juta dan bayar kontan ke keluarga dan tetangga sekitar Rp 5 juta, sisanya untuk modal kios karena kios mau kubangun permanen biar omzetnya bertambah"
"Dokumen apa yang sudah dibawa"
"Ini SIUP, SITU, NPWP dan copy Akte Notaris, kalau Sertifikat tanah masih diurus bang"

"Sudah cukup dulu nanti kuhitung dulu, besok siang saya datang melihat kios dan getahnya"
"Terima kasih, permisi"
"Maaf ini adik atau .....pacar ?"
"Teman bang, bapaknya yang perlu formulir tabungan mau buka rekening katanya".

Di parkiran motor sebelum meninggalkan Bank Longga berkata :
"Hebat kali kau bang, sudah mulai pinjam Bank, ajari aku ya?"
"Kalian kuliah dulu lah nanti bukan seperti kami ini, berkuli"
"Ngomong ngomong, Jojor ga mau ketemu Abang lagi sekarang pada hal Su Lian hanya teman bisnis, tolong jelasin ya, please"
"Sabarlah bang dia masih muda, sekarang dia suka pergi sama Leonard dan mama bapak tidak pernah marah".
Lalu mereka berpisah, Longga pulang ke sekolah dan Tumpak pulang ke kampung.

Betul janji mantri Bank tepat jam 2 siang meninjau usahanya di kampung.
"Stock getahnya mana ?"
"Kan hari pasar langsung dijual ke toke, ada 25 kg di belakang yang dibeli kontan, kalau getah dari keluarga, tetangga dan teman dekat saya bayar kadang tempo 1 - 2 hari, jika dapat kredit mau saya bayar kontan"
"Kapan kios ini selesai dibangun dan barang dari mana ?"
"Dari distributor Medan bang, tapi itu kogsinyasi, tetapi untuk bensin, beras, gula, gas, minyak tanah kan mesti bayar kontan, seminggu lagi kios ini sudah jadi"
"Baik cukup dulu hari ini, nanti beberapa hari saya khabari kalau kepala unit sudah setuju".

Sore harinya Tumpak penasaran mau ketemu Jojor dirumahnya.
"Horas Jojor, bapak ada ?:
"Tunggu bang aku panggil, duduklah", tapi wajahnya tidak ketawa seperti biasanya.
"Jor, tunggu sebentar saya mau ngomong"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan", sambil dia masuk memanggil bapaknya.
"Pak formulir tabungannyanya sudah diisi, besok mau saya bawa?"
"Longga ambil dulu formulir itu sama uang Rp 500.000"
"Saya permisi dulu ya pak"Longga mengantarnya sampai ke motornya.
"Jojor mana ?"










   

Friday, February 9, 2018

PENGUSAHA MUDA (6)

HUBUNGAN BISNIS

Related image

Malam itu setelah makan malam, Su Lian dinasehati papa mamanya juga didengar oleh koh dan istrinya sedang anak anaknya tidak mendengar, disuruh bermain game di kamar.
"Belakangan ini kami perhatikan kau dengan Tumpak semakin akrab, ingat ya, loe kan suku Hokkian.mesti kawin dengan satu suku kalau bisa dari daerah nenek moyang kita di Selatan propinsi Fu Jian, loe sudah disekolahkan ke Singapur, malah sekarang dekat dekat sama Tumpak"
"Saya kan hanya ngomong bisnis pa, biar dia mau jadi agen kita"
"Kami perlu mengingatkan saja, jangan loe kasih hati, paling tidak kawin sesama Hokkian, nenek moyang dari Ciangchiu, seperti kebanyakan orang Medan"
"Tumpak orangnya kan baik ma, bukan seperti teman temanku di Singapur yang suka minum, suka judi"
"Loe kan sudah tau gimana kejadian tahun 1998, pembunuhan, perkosaan, pembakaran, biar juga kita warga negara, tetap saja dianggap asing, mau jadi tentara tidak bisa, jadi dokter sulit, akhirnya jadi pengusaha"
"Jadi pengusaha terus kaya, salah lagi", sambung kokohnya lagi.
"Ya sudah sudah cerita itu melulu, bosan", Su Lian mau pergi.
"Eh dikasi tau mau pergi, duduk", kata papanya.

"Justru itu saya mau banyak teman pribumi agar kita diterima,agar mereka baik baik sama kita, kami pemuda zaman sekarang tidak begitu lagi", kata Su Lian dengan enteng.
"Tapi loe mesti ikuti adat nenek moyang kita, lihat koh mu kawin satu suku kan, meneruskan marga kita, marga dari daerah Fujian seberang Taiwan, agar marga loe tidak hilang", kata mamanya.
"Kalau kawin campur memang marga saya hilang, kan tidak", sergah Su Lian, mamanya belum selesai ngomong.
"Loe itu diam dulu, dengar kalau loe kawin sama orang sini kan pake marga mereka dan marga kau hilang diganti marga mama suami", kata papanya membela istrinya.
"Kawin sesama suku Hokkian dibelakang nama anak anak kan ikut marga papanya"
"Jangan keras kepala, hubunganmu dengan Tumpak hanya pertemanan bisnis, tidak lebih"
"Ya ya, sudah ni", sambil dia berdiri dengan muka masam menuju kamarnya.

Ketika Tumpak datang hari Senin berikutnya Su Lian tidak melayani pembayaran getahnya, tidak tampak di toko yang juga jadi rumah tinggal itu. Dia pura pura minta ijin ke kamar mandi sambil tengok kanan tengok kiri. Ternyata abangnya Su Lian mengerti maksudnya, terus dia berkata :"Su Lian sedang menjemput anak anak di sekolah".
"Ya ga apa apa koh"

Sehabis menerima pembayaran getah, Tumpak menuju ke Bank dan ketemu saudara  semarganya.
"Omzetmu akhir akhir ini tambah besar, modalya masih cukup ?"
"Aku pinjam bang dari toke Rp 5 juta, ditawarkan terus sama putri toke"
"Baik kali Amoy itu sama kau, suka kau sama dia ?"
"Ah mana mungkin bang, biasanya mereka kawin dengan satu keturunan dari tanah leluhur, mana mungkin sama kita yang miskin ini"
"Bisa saja, itu lihat itu bapak Pendeta kita kawin sama Tionghoa juga"

"Dari pada meminjam ke toke, lebih baik pinjam kredit saja, jadi kau bebas menjual kemana saja"
"Memang sudah bisa pinjam ya bang ?"
"Sudah bisa, gini saja adek lebih baik dirikan CV dulu biar lebih jago kau, nanti aku bantu urus ke Notaris. Pakai usaha perorangan sebetulnya bisa juga, tapi baiknya pakai CV biar usahamu cepat berkembang, mumpung abang belum pensiun"
"Aku sudah belajar CV, Firma, P.T dan koperasi di sekolah, tapi cuma theory bang, saya kira CV itu hanya untuk pemborong"
"Pelan pelan saja urus ijin ijin seperti Ijin usaha (SIUP), ijin tempat usaha (SITU), pajak (NPWP) di kantor Bupati, kalau ke Notaris nanti saya antar".
"Repot juga ya bang"
"Paling 2 minggu sudah beres, tidak perlu kasih amplop ya, itu sudah tugas mereka. Kalau rumah sudah punya Sertifikat ?"."
"Belum bang, di kampung mana pula pake Sertifikat"

Sudah lebih seminggu Tumpak tidak mampir dan tidak telpon Jojor. Tetapi seperti biasa dia suka raun raun, jalan jalan cari angin dan mampir di kios Tumpal.
Tit tit...."Tolong 10 liter ya kak", katanya kepada kakaknya Tumpal.
"Biar aku saja kak", kata Tumpak.
"Kemana saja bang lama tidak mampir"
"Sibuk Jor urus ijin ijin ke Pandan ke kantor Bupati, memangnya kamu rindu?".
"Abang jangan sombong, aku kan suka jalan sama paribanku, Leo" 

Jojor mulai starter motornya mau pulang, sebuah Fortuner yang tidak asing lagi berhenti. Su Lian dan 2 anak,  ponakannya turun dari mobil.

"Salam Om sama kakak. Om ini namanya Tumpak, kakak ini namanya Jojor"
"Tumben bawa anak anak ?"
"Biar biasa mereka berbaur, biar tidak takut sama orang Batak dan juga bisa melihat banyak rakyat yang miskin, biar mereka peduli sejak kecil, jangan pelit", kata Su Lian pada hal bawa ponakannya biar mama papanya tidak curiga.
"Ini Lian kios yang saya ceritakan itu, masih kecil"
"Saya sudah bicara papa kita mau kerjasama seperti yang pernah kau bilang"
"Berapa kira kira modal bangun kios permanen ?"
"Saya kira Rp 25 juta sudah cukup"
"Ya nanti kalau papa ok, saya setor ke rekeningmu lewat ATM, kutunggu ya di toko"

"Ayo kita ke rumah dulu"
"Salam Ompung, yang perempuan panggil Ompung boru, yang laki Ompung doli"
"Ompung boru sesekali datang ke toko ya?", kata anak laki laki yang agak berani. Sedang anak perempuan agak pemalu.
"Om boleh lihat kandang ayamnya"
"Boleh, boleh, ayo ke belakang", sambil dituntun ompung boru ke belakang.
"Ürr, urr....sini, ini makan", kata anak laki laki sambil lemparkan beras.
"Ompungggg, ada anjing, takut".

"Jojor isi bensin disini ya, bukan di SPBU ?"
"Hanya sedikit kak, takut habis dijalan"
"Äku duluan ya, daaa. jangan lupa ya bang" 










Tuesday, February 6, 2018

PENGUSAHA MUDA (5)

BARANG KONSIGNYASI DAN   TAMBAH MODAL

Image result for kolam renang sibolga hotel

Bisnisnya Tumpak makin hari makin berkembang termasuk penjualan kios disamping rumah yang menjual beragam keperluan masyarakat desa yaitu beras, minyak tanah, gula, mie instan, shampoo, cuka karet dan makanan kecil seperti snack disamping jual bensin.


Seperti biasa sore menjelang petang Longga dan adiknya Jojor suka jalan jalan cari angin ke kampung sebelah, Bonandolok sampai pasar Rampa. Mereka sempatkan berhenti di kios Tumpak sekedar membeli bensin.
"5 liter saja namboru", kata Longga kepada mama Tumpak.
"Eh Longga, apa khabar", kata Tumpak yang baru turun dari rumah utama dari kayu beratap seng, bertangga semen dengan kolong.
Longga sengaja datang agar Tumpak jangan takut sama papanya yang marah karena pulang telat dari sekolah dengan adiknya, Jojor.


"Sudah rame bang kiosnya", kata Longga dengan senyum tulus.
"Ah masih kecil Longga, soalnya pake modal orang lain"
"Abang minjam dari A Kiong ?"
"Tidaklah, saya kan bukan agennya"
"Beli barang ini modal siapa ?"
"He, he, he,,,barang konsignyasinya itu, barang titipan,laku baru bayar, kita ambil untung sedikit"
"Mau juga mereka nitip ya bang ?"
"Sekarang begitu, distributor tidak perlu buka toko dengan bayar pegawai, kita tokonya, dia tidak ada ruginya"
"Pembagian untungnya gimana ?"
"Kita naikin harga, kalau tidak laku, mereka ambil kembali, kita tidak keluar duit"
"Enak juga ya bang, motor kau juga baru", sambil berkaca di spion motornya.
"Kan bayar Rp 1 juta sudah bisa bawa pulang, semoga tidak ditarik toko nanti", kata Tumpak tertawa.terbahak bahak.


"Bapak bilang abang dibayar A Kiong pake Giro, kenapa tidak bayar kontan", kata Longga yang masih belia, klas 2 SMA belum mengerti apa itu Giro..
"Abang saya yang kasih tahu, sekarang saya jadi tahu omzet tiap bulan, suatu waktu saya mau pinjam dari Bank"
"Kapan kapan ngomong sama Bapak dulu bang, saya juga mau tahu juga".
Seperti biasa malam minggu Tumpak mampir dirumah Longga, mereka jalan jalan ke kota, makan atau nonton filem.
"Horas paman, ada Longga?"
"Jojor panggil kakakmu ada Tumpak"
"Kau sudah dapat modal dari A Kiong atau dari bank ?"
"Belum butuh paman, kata abang di bank, nanti beberapa bulan bisa pinjam dari Bank, bebas kita dari pada berutang ke toke, terikat kita"
"Saya sudah lama dagang karet belum pernah pinjam Bank, tolong ambil formulir Tabungan dulu, kasi sama Longga ya"


"Bikin kopi kami dulu Jojor"
"Tidak usah paman, terima kasih, kami rencana mau jalan dulu".
Jojor langsung datang dan ambil kunci motornya Tumpak.
"Kami jalan dulu ya pak"
Longga menyusul bawa helm dan naik motornya sendirian.
"Lihat tuh putrimu, dibonceng sama Tumpak, kata Bapak Longga.
"Nanti juga mereka kuliah, tumpak nanti tinggal di kampung"


Sebelum masuk ke gedung bioskop mereka beli kacang, es cream dan roti, dibayar pake kartu"
"Bisa bayar pake kartu ATM ya bang"
"Ïni bukan kartu ATM, ini Kartu debet"
"Apa gunanya kartu Debet", sambil dia peggang dan perhatikan kartu itu.
"Begitu digesek, tabungan kita berkurang"
"Sering aku dengan Kartu kredit, apa bedanya?"
"Kalau Kartu kredit, kita berhutang ke Bank dan bayar bunga. Kalau Kartu debet, kita pakai uang sendiri"

Habis menonton, mereka makan di Sibolga square di cafe cafe tenda di jalan utama, khusus diwaktu malam.
"Bang ajari kami berenang, biar bisa berenang kayak Su Lian, siapa tahu kita piknik .ke pulau Poncan lagi", kata Longga.
"Sudah diajari bisnis, sekarang minta diajari berenang"
"Nanti ajari pacaran bang", kata Jojor senyum senyum.
"Habis Gerejalah kita besok, ajak saja Leonard".


"Sampai dirumah baru jam 9 malam belum terlalu larut, Longga dan Jojor tidak menduga mereka akan dipanggil Bapak sama mamanya keruang makan, disitu Tumpak sudah pulang.
"Kau Longga ajar ajari adikmu, kau Jojor ingat kau si adikan", kata Bapaknya.
"Jangan sampai kau salah jalan Jojor sampai kau melangkahi kakakmu, ingat itu.
Longga dan Jojor duduk terdiam.
"Jangan bikin malu keluarga", kata Bapaknya.
"Ingat kalian harus sekolah setinggi tingginya, jangan kawin dengan orang kampung", sambung Ibunya.

"Jangan salah, kami tidak marah sama Tumpak, kami orang tua wajib mengingatkan", kata Bapaknya menyudahi kuliah malam itu.

Hari Minggu itu Longga dan adiknya memilih kebaktian di Gereja Sibolga dengan keluarga Leonard agar bisa cepat cepat latihan renang. Sedang Tumpak memilih kebaktian di Gereja kampung dengan orangtua dan kakak, adiknya, seperti kebiasaan mereka sejak masih kecil. Kalau hari Minggu penduduk kampung wajib ke Gereja, mulai dari Sekolah minggu anak anak, Ketahuan siapa yang tidak ikut kebaktian.


Sebelum berangkat sama sama ke Gereja, hand phone Tumpak berbunyi :
"Hallo, hari ini turun ke Sibolga ga, ada yang perlu dibicarakan ?"
"Tentang apa, ngomong saja, habis Gereja kami mau renang ke Pandan"
"Kalau begitu aku ikut, disana kita bicarakan"
"Ok kalau begitu, tunggu ya sekitar pukul 12 atau pukul satu".


Pukul 2 Tumpak dan Su Lian sampai di hotel tempat renang naik Fortuner lama disopiri Su Lian yang memakai rayban hitam, kaos merah dan short.
"Sudah lama kalian ?"
"Lumayan bang, kami duduk duduk saja sambil minum es lihat orang orang renang".
Longga hanya ketawa sambil menyalami Su Lian.
"Lama kali bang", kata Jojor sambil menyiram Tumpak dengan air, jengkel melihat Su Lian bisa ikut  renang. Pasti mereka sudah janjian, pikir Jojor dalam hati.

Su Lian mengajar Longga berenang, sedang Leonard diajari Tumpak.
"Sini Jojor saya ajari", kata Su Lian
Äku mau belajar sendiri"
Tidak lama, Tumpak melatih Jojor agak menjauh ke pinggir kolam, kadang sembur semburan, kadang menyelam bersama, sampai tidak kelhatan.
Setelah setengah jam, giliran Su Lian lomba berenang dengan Tumpak hingga 25 meter ujung Selatan kolam renang. Tumpak kalah cepat karena Su Lian sudah terbiasa di Singapur ketika sekolah disana.


"Dua hari Senin, Tumpak ga setor getah, kenapa ?"
"Sory ya saya jual ke PT.ASL di Sarudik karena harganya lebih tinggi dari kalian". Tumpak bebas menjual kemana saja harga tertinggi karena dia tidak terikat modal dari toke.
"Berapa harga di fabrik rupanya ?"
"Rp 95.000, katanya memenuhi ekspor mereka ke Jerman dan Italy, kapal sudah menunggu di Belawan, katanya mau bikin roda pesawat terbang"
"Minggu depan jual ke kami saja, harganya samalah dengan fabrik, kalau perlu modal bilang ya".
"Ya sekarang perlu modal karena agen, teman sekolah saya sudah beli sampai pasar Parsingkaman". Parsingkaman ini masuk Kabupaten Tapanuli Utara, jalan menuju kota Tarutung.


Jam menunjukkan pukul 15.30.
"Bang sudah lapar nih", kata  Jojor dengan suara keras agar Tumpak dan Su Lian berhenti ngobrol berdua dipinggir kolam"
Ök ok, 3 kali putaran lagi ya"
Mereka berdua berenang bolak balik sepanjang 25 meter tanpa istirahat. Tumpak kedodoran, tertinggal jauh dari Su Lian dengan stroke tangan dan kakinya yang bergerak panjang. Sedang Tumpak kalah tehnik hanya tahu gaya katak saja dengan sekuat tenaga hingga terengah mendekati Jojor.
"Renang memang menguras tenaga, cepat lapar, ayo kita cari ikan bakar".
Mereka naik mobil Su Lian, Tumpak duduk di depan, Longga, Jojor dan Leonard duduk di bangku belakang.


"Kau pilihlah Longga ikannya", kata Leonard.
Karena capek berenang, sambil menunggu ikan dibakar, angin dari laut Pandan berembus segar di pondok penjual ikan. Jojor dengan manja, sandaran mengantuk disisi sebelah kiri dekat Tumpak duduk. Suara ombak kedengaran hingga berdesir ketika sampai di tepi pantai berpasir putih.
"Enak kali ya ikan Sibolga ini, aku tidak pernah lupa", kata Su Lian.
"Ya kak, terutama ikan bakar dengan bumbu kecap, asam, cabe, bawang", kata Longga.
karena pedasnya, walau angin sepoi, tetap saja keringat.
"Ini tissue", kata Tumpak sambil mengelap keringat Jojor disampingnya.
"Uhuk uhuk", batuk Leonard sambil melirik paribannya Jojor. Pariban itu, anak paman, adik ibu yang dalam adat merupakan calon prertama menjadi istri. Itu memang yang diimpikan ibu Leonard, salah satu dari mereka berdua jadi menantunya, meneruskan silsilah keluarga.

Related image


Habis makan mereka sempatkan lari  lari di pantai pasir putih Pandan yang ramai dikunjungi wisatawan dari Kabupaten tetangga. Tempat ini sejak zaman doeloe tempat tujuan Wisata yang dikelola oleh Pemda Tapanuli Tengah yang sekarang ibukotanya pindah dari Sibolga ke kota baru Pandan, hanya 10 km ke arah kota Padangsidempuan, ibukota Tapanuli Selatan.
Jojor terhenti sebentar di belakang, mengingat kembali ketika dia jatuh dan bajunya basah sehingga pakai baju Tumpak menunggu bajunya kering.
"Hayo Jojor", kata Tumpak mundur sambil menarik tangannya.

Pulang ke Sibolga, mereka bawa 2 sepeda motor dan 1 mobilnya Su Lian.
"Bang bonceng aku yah, sudah capek aku yang berenang itu"
"Kan ga enak, tadi kami datang berdua, ya pulang berdua"
"Ya sudah, pergilah karena banyak duitnya, ga usah berteman juga ga apa apa", sambil pergi ke tempat parkir motornya
"Kau sendirilah pulang ya Lian", sambil berlari mendekati motor Jojor.
"Jangan marah sayang", kata Tumpak bergurau. Dicubit Jojor pinggangnya dari belakang

"Yang cemburunya kau ?". Ditarik Jojor telinganya Tumpak dari belakang.
"Kami tadi bicarakan bisnis di kolam renang"
"Aku tidak tanya, kalian pacaran, mana kutahu, aku capek tahu takut nanti waktu pulang naik ke kampung, bisa jatuh ke jurang".
"Ya ya, itu kan cuma alasan", ketawa Tumpak berderai.


Sampai di rumah Mamanya tanya Su Lian.
"Dari mana saja kamu, Tumpak mana, awas ya kalau kau macam macam dengan dia. Ingat ya, jangan lupa adat kita "



www.see-soul.blogspot.com


- Bersambung -



Sunday, February 4, 2018

PENGUSAHA MUDA (4)

SU LIAN MENAWARKAN MODAL

Berkas:Pulau Poncan.jpg
Selama 7 bulan menjual karet ke toke Akiong di Sibolga biasanya dilayani 2 anaknya, satu laki laki yang sudah berkeluarga, satu lagi seorang gadis, nampak masih lebih muda dari Tumpak walau sudah berusia 23 tahun, mungkin karena pintar berdandan. Anak laki yang menimbang, yang gadis jadi kasir, yang membayar.

Karena Tumpak tidak meminjam modal dari Akiong, dia bebas menjual getah ke toke lain di kota Baringin, Sambas dan fabrik. Itu sebabnya Su Lian ambil hatinya biar mau jadi agen mereka.
"Biar lebih besar modalmu, kau boleh minjam Tumpak"
"Omzetku masih kecil, nanti saja ya Lian"
"Kalau pinjam modal,, kau tidak capek,tidak perlu lagi kesana kemari"
"Kapan kapan kita bicakan lag", kata Tumpak sambil minum teh kosong dingin yang diberikan oleh Su Lian.

Buat apa modal karena family, teman dekat dan tetangga bersedia dibayar satu dua hari setelah hari pasar, Senin. Sering hari Senin petang pada hari itu juga sudah dibayar. begitu dalam hati Tumpak
"Kubayar pakai check saja ?"
"Jangan Bilyet giro saja biar kusetor ke bank BRI"
"Bah sudah ada rupanya rekening kau", kata Su Lian sambil ketawa dan seperti main mata.
Berdetak kencang jantung Tumpak melihat bibir Su Lian yang merah. Baru kali ini gadis Amoy itu begitu baik sama dia.
"Bawa cheque atau cash bisa jatuh dan dirampok orang, kalau Giro kan tidak bisa dicairkan"

Sudah waktu makan, hampir jam 1 siang, waktu makan siang keluarga toke itu.
"Ayo makan", kata Su Lian. Belum sempat dijawab Akiong berkata :
"Jangan malu malu, ayo"
Merah muka Tumpak karena malu malu.
Diperhatikannya menu yang ada ditengah meja bundar dari marmer warna cream, biasa biasa saja, tidak mewah seperti bayangan banyak orang. Ada mie, daging, ikan, bubur, sup, sayur, timun, tomat. Minum juga hanya teh tong, teh tawar dingin dan teh panas. Dirumah Longga kurang lebih sama seperti itu. Begitu kebiasaan warga China walau kaya, tetap perhitungan, bukan pelit. Bahkan mereka yang baru kawin ada yang rela makan bubur. Itu yang ada dalam fikiran Tumpak.

Seminggu setelah itu di hari Sabtu berbunyi klekson mobil.
"Tit tit tit, sebuah mobil jip Toyota Fortuner model lama berhenti  di depan rumah Tumpak, nampak Su Lian keluar dari pintu sebelah kiri dengan sopir.
Tumpak kaget tidak menduga seorang gadis cantik muncul tiba tiba.
"Horas bang" sambil menyalami Tumpak dan langsung naik tangga masuk rumah.
"Maaf Lian, berantakan, maklum rumah kampung, duduk, duduk, Bapak, Ibu pergi ke kebun, saya bikin minum dulu"
"Tidak usah repot, hanya mau ngajak Abang jalan jalan ke Medan"
"Waduh gimana ya, Bapak sama Ibu tidak ada, lain kali lah ya"
"Kalau begitu saya langsung saja", sambil berdiri dan turun tangga rumah sambil pegang tangan Tumpak dengan erat. Harum wangi tubuh Su Lian, belum pernah mencium minyak wangi gadis lain seharum itu..

Lama kelamaan hubungan Tumpak dan Su Lian semakin dekat. Tumpak belum pernah bergaul akrab dengan gadis China, cantik lagi. Su Lian juga suka karena Tumpak senang ber bisnis, ganteng, kekar pula, suka laki laki tegas. Bosan bergaul dengan laki laki gemulai.
Kalau hari pasar, Senin pagi Su Lian suka nelpon atau sms harga getah terbaru agar Tumpak beli getah di pasar Rampa tidak rugi. Pada hal Tumpak bukan agen mereka. Asal ada saja alasan untuk sekedar dengan suaranya. Begitu juga disitu ada berita baru harga naik atau turun dari Singapur selalu menghubungi Tumpak. Disamping itu mereka juga sering nonton TV Hong Kong  dan Singapura berbahasa China.
Bapak dan Ibu A Kiong juga suka sama Tumpak, pemuda yang sudah berbisnis getah walau masih muda dan tidak punya hutang dan tidak merokok.

Setelah menerima Bilyet giro, Tumpak langsung pergi menyetornya ke rekening di bank BRI. Ditemuinya saudaranya yang bekerja disana untuk menanyakan omzet usahanya 2 bulan terakhir. Setelah dihitung bulan February sebesar Rp 15 juta, sedangkan bulan Maret Rp 17,5 juta. Omzet itu baru dari beli karet 400 - 500 kg dengan harga Rp 7.500 - Rp 8.000 per kg. Saldo Tabungannya hanya Rp 1.5 juta. Tabungan ini kalau perlu uang itu sudah cukup untuk membeli 200 kg dari orang lain yang ingin dibayar kontan.

Sebelum meninggalkan bank, abangnya bergurau,
"Hebat kali kau, sekarang jadi jutawan, sudah bisa kawin nieh, sudah ada pacarmu ?", sambil mereka tertawa terbahak bahak.
"Begini saja, semua pemasukan dari getah maupun dari kios setor saja ke bank, kalau mau membeli bensin, beras dll ambil dari ATM, nanti semua transaksi akan tercatat, jangan bawa uang banyak disaku".
Lalu dibawalah Tumpak ke kamar ATM yang terletak diluar bangunan bank, diajari membuat passworld, lalu dimasukkan ke dompet nya. Ketawa Tumpak melihat kartu itu didompetnya. Keren juga, begitu dalam hatinya.

Image result for atm bri

"Biasanya habis jual getah, uangnya langsung dibelikan beras, gula, minyak dll"
"Itulah rahsianya kalau setor ke Bank, ketahuanlah cash flowmu"
"Report kali lah kalau begitu bang bang"
"Itu rahasia yang perlu kau tahu, jika kau perlu modal, bagus itu"

Disatu hari Minggu keluarga A Kiong piknk ke pulau Poncan, pulau ito nampak jelas disebelah Barat kota Sibolga. Tokke itu sendiri yang mengajak Tumpak untuk ikut.
"Ikut saja piknik dengan kami". Su Lian nampak senyum mendengar ajakah papanya.
"Boleh kubawa teman?"
"Boleh, boleh bawa saja, kapalnya masih muat"
Jumlah yang piknik 12 orang, termasuk 3 teman Tumpak, Longga, Jojor dan Leonard, 8 orang anggota keluarga A Kiong.

Sebelum naik ke kapal, Tumpak minta ijin agar mobil mampir ke ATM Bank BNI terdekat, dekat tepi laut, sebelah pelabuhan.
"Kan rekening abang di BRI ?", kata Jojor.
"Bisa Jor diambil di Bank mana saja"
"Aku kan belum punya ATM bang kan belum tau"

Ramai juga yang wisata di pulau itu karena pasirnya putih, lautnya bening, kelihatan pasir dibawah laut. Abang Su  Lian dengan istri dan 2 anaknya bersama A Kiong dan istrinya duduk ditikar penuh dengan makanan dan minuman sambil memandang ke laut lepas, menghilangkan penat dihari biasa. Longga dan Leonard berjalan ditepi pantai mencari teripang dan karang putih, mereka takut berenang.
"Mandi jangan jauh jauh ke tengah", kata mama A Kiong dengan keras karena hembusan angin kuat.

Hanya Tumpak, Sun Lian dan Jojor yang mandi di laut. Tumpak biasa berenang di sungai di kampung, sedang Su Lian suka berenang di hotel. Jojor memakai ban dalam mobil, kadang duduk diatas, kadang berjalan. Karena enaknya berenang mereka tidak sadar terbawa gelombang besar agak ketengah. Mau kembali ke tepian, Su Lian capek tidak kuat melawan arus, bahkan batuk batuk ketelan air laut. Sedang kaki Jojor tidak lagi menyentuh dasar laut, segera minta tolong Tumpak membantu nya naik keatas ban. Terpaksa Su Lian digendong dan tangan kanannyanya memegang erat lehernya Tumpak. Tangan kiri Su Lian menarik bannya Jojor. Takut sekali Tumpak jika tidak kuat berenang ketepian. Sampai dipantai pasir putih Tumpak telentang, nafas terengah engah.
"Tadi mama sudah ingatkan jangan ketengah"
"Maaf ma, maaf ma", kata Su Lian seraya menyembah mamanya.


Dalam perjalan pulang, diatas kapal Su Lian terus berusaha mendekati Tumpak, bagaimana caranya agar dia mau menjadi agen tetap, jangan cari toke lain. Yang dibicarakan ya bisnis, bukan indahnya pulau Poncan, bukan tentang ribut ribut berita Bupati Tapanuli Tengah yang ditangkap KPK. Begitu sifat sifat pedagang Chna. Di kedai kopi, yang dibicarakan juga bisnis, bukan politik.
"Bisa tambah beli karet Tumpak sampai 1 ton", kata Su Lian.
"Bisa nanti kami cari sampai ke pasar Parsingkaman, agen dari Sitahuis akan suruh". Pasar ini dekat, hanya 15 km dari pasar Rampa tetapi masuk Kabupaten di sebelah Utara menuju Danau Toba
"Nanti kami tambah modal kau"

"Ya tapi harganya jangan kau kurangi pula"
"Bereslah bang", dipegangnya siku Tumpak dengan gemas.


www.see-soul.blogspot.com

- Bersambung -










Monday, January 29, 2018

PENGUSAHA MUDA (3)

Related image


BUKA TABUNGAN DAN SPEKULASI
Menjelang petang Jojor baru pulang sekolah bersama Tumpak. Bapaknya marah sama Longga, kakaknya:"Kenapa adikmu belum pulang?"
"Ga tau pak"
"Mulai besok dia tdk boleh lagi bawa motor".
Tidak lama motor berhenti depan rumah.
"Dari mana saja kalian baru pulang?".
"Tadi aku jatuh bajuku basah dipantai"
"Kunci motormu sini, besok tdk boleh bawa lagi"
Bpk Longga sebenarnya suka dng Tumpak karena mereka nanti bisa joint beli getah agar tidak bersaing harga. Hanya kalau berteman jangan sama Jojor, sama kakaknya. Jangan sampai melangkahi kakaknya, nanti memalukan keluarga.
Sejak saat itu Tumpak tidak pernah lagi mampir, lagi pula dia tidak jual karet lagi kpd bpk Longga.
Setelah 6 bulan langganan Tumpak makin bertambah. Teman teman sekolahnya seperti Osman, Januar, Daulat sdh jadi langganannya. Sehingga satu hari pasar sdh mampu membeli sekitar 1 ton bernilai Rp 750.000 - Rp 1 juta. 4 x pasar ya 4 kalinya.
Tentu tidak semua mau jd pelanggan Tumpak. Sebagian tetap bebas menjual kpd agen pengepul yg menawarkan dng harga lebih tinggi.
Keuntungan bulanan Tumpak meningkat sekitar Rp 1 - Rp 2 juta sebulan. Buat anak baru lulus SMA itu nilai yg cukup besar.
Tapi jika musim hujan tidak ada yg jual karet. Pd saat itu musim buah, durian dan duku. Itu yg menjadi dagangan Tumpak di kios samping rumah. Keluarga dekat juga titip disitu. Pembeli kebanyakan mobil yg lewat menuju Medan atau Sibolga.
Begitulah masyarakat hidup dari anugerah Tuhan, tanpa diusahakan jadi perkebunan durian dan duku tersedia tinggal tunggu musim.
Sawah jarang, beli beras dari Kabupaten tetangga, Tapanuli Selatan dan Tobasa sebagai lumbung pangan. Karet dijual untuk beli beras, uang sekolah dll. 1 kg beras senilai 1 kg karet itu rumus yg ideal.
Tumpak sudah mulai mengerti fluktuasi naik turun harga karet dan jiwa bisnisnya berbicara.
Pernah rugi tetapi pernah untung menahan stock karet beberapa hari. Tiba tiba harga anjlog. Terasa juga ruginya. Pernah juga harga melonjak dan untung sampai Rp 2,5 juta.
Ketika menahan stock, family dan tetangga yg perlu uang dibayar separoh dulu, ada juga yg ambil beras, minyak dll, nanti diperhitungkan dng karet yg disetorkan. Karena di kios sudah cukup banyak barang kebutuhan pokok.
Disamping kebutuhan pokok kios juga menjual bensin mengingat di kampung banyak yg sudah punya sepeda motor. Ibu dan kakak Tumpal melayani pengisian motor tsb.
Berhentilah satu motor, pegawai bank bri Sibolga. Dia bertanya :"Sudah punya tabungan kau?".
"Belum bang, usaha masih kecil kecilan".
Setelah berkenalan, rupanya marga mereka sama, marga Hutagalung.
"Kalau kau punya tabungan, ketahuan berapa omzetmu tiap bulan".
"Untuk apa bang?".
"Kau bisa minjam modal, toke China begitu semua, jadi kami tahu omzet mereka".
"Aku pikirlah dulu bang, kapan kapan aku mampir ke bank".
2 minggu kemudian Tumpak dan pegawai bank ketemu minum kopi siang hari di kedai kopi.
"Kapan jadinya kau buka Tabungan ?".
"Habis minum samalah kita ke Bank ya bang".
Disetorlah tabungan awal Rp 250.000.
"Besok lusa datang lagi biar kuajari pakai kartu ATM".
"Terima kasih bang, horas".
Karena masih punya uang keuntungan jual karet hari pasar Senin lalu, Tumpak beli satu Laptop. Laptop pertama tidak seperti teman2 sekelasnya banyak yg sdh punya laptop atau PC di rumah.
Sejak peristiwa itu dan sibuk melayani di kios, Tumpak jarang ke rumah Longga. Bapaknya tanya:"Apa khabar Tumpak sekarang, bpk ingin ketemu ?".
"Tidak tau pak, nanti sore saya isi bensin kesana".
"Horas namboru, Tumpak dirumah?"
"Ada tunggu sebentar".
"Apa khabar bang, bpk cari tuh".
"Ya besok Sabtu saya mampir".
"Sekalian kita nonton bang ada film korea".
Longga tau persis kalau bpknya suka sama Tumpak karena masih muda sudah mulai berbisnis. Maunya mereka joint dari pada bersaing.
Jadilah mereka mau nonton film. Jojor cepat cepat ambil kunci diberikan Tumpak. Dia langsung duduk dibonceng. Sedang Longga sendirian. Mereka jemput Leonard dulu dirumahnya. Habis nonton Tumpak ajak mereka makan bakmie. Tentu siapa yg ajak dialah yang bayar.
"Sudah banyak duit sekarang ya bang".
"Ah masih jauh dari bpk Longga".
"Kiosnya juga ramai ya bang".
"Lumayanlah".

Saturday, January 27, 2018

PENGUSAHA MUDA (2)

Image result for PACARAN NAIK MOTOR
KEUNTUNGAN PERTAMA.
Menjelang subuh Tumpak dan bapaknya lari lari kecil ke kebun karetnya. Berlari dari pohon satu ke pohon lainnya di kiri kanan dan di bagian atas. Membungkuk membeesihkan tempurung penampungan cairan getah. Keringat dipagi hari seperti olah raga lari pagi. 
Menjelang siang ritual berlari mengumpulkan cairan getah, membungkuk menuangkannya ke kaleng besar.
Terbayang teman temannya yang belum bangun dan siap berangkat kuliah.
Sejak dia ikut menoreh getah, ibu dan kakaknya menjaga kios kecil disebelah rumah.
Khusus hari pasar, hari Senin Tumpak membeli karet. Yg dibeli baru sedikit 400 - 500 kg dari keluarga dekat dan tetangga. Menjelang siang dia menjualnya turun ke kota Sibolga ke toke Akiong.
Jumlahnya memang hanya sedikit tetapi nilainya cukup besar untuk seorg pemuda baru lulus SMA. Jika se kg berharga Rp 7.500 - Rp 10.000 maka nilainya bisa Rp 3 - Rp 5 juta. Keuntungannya juga kecil hanya Rp 250 per kg. Tapi keuntungan itu cukup membuat jiwa dagangnya membuncah karena bisa untung Rp 500.000 - Rp 1 juta se bulan. Lumayan menambah penghasilan dari karet kebonnya. Jika karet tsb ditahan seminggu dan harga naik, keuntungan bisa tambah besar.
Sore harinya Tumpak membayar hutangnya kpd family dan tetangganya.
Seperti biasa malam minggunya Tumpak mampir ke rumah Longga. Dia ditanya:"Hari Senin kok tidak jual getah Tumpak ?".
"Maaf paman saya jual langsung ke Akiong bersama getah beberapa family dan tetangga".
"Sudah pintar kau sekarang ya, bikin teh dulu Longga".
"Ya pak".
"Jojor mana?"
"Kok Jojor yang dicari?"
"He he he biasanya dengar suaranya nyany atau ketawa".
"Dia nginap dirumah namboru, kakak bapaknya di Sibolga".
Bpk Longga melihat gejala Tumpak dekat dng Jojor. Lebih baik jika Longga yg dekat Tumpak karena dia anak sulung. Bpk Longga senang melihat sifat sifat Tumpak. Jojor sengaja disuruh bawa durian ke rumah kakaknya.
Kalau ibunya belum memikirkan putrinya pacaran karena ingin mereka kuliah dulu. Jangan dikampung terus. Kalau kuliah nanti bisa dapat jodoh orang kuliahan juga, sarjana. Kalau nikah dng orang kampung kembali lagi kerja ke kebun karet.
Related image
Sudah biasa di malam minggu Tumpak ngajak Longga nonton ke kota melalui jalan menurun berkelok kelok 10 km jauh memandang ke laut nan biru. Karena disebelah kanan jurang menganga, Longga memeluk pinggang Tumpak erat erat. Sebenarnya hubungan mereka berdua hanya sebatas teman karena keluarga Tumpak tergolong miskin. Saat itu mereka naik sepeda motornya Longga karena Tumpak tidak punya motor.
Dalam hati Tumpak lebih senang sama adiknya, Jojor karena kalau menyanyi matanya ikut tertawa.
Karena itu di hari Jumat berikutnya Tumpak sms Jojor ngajak jalan jalan ke pantai Pandan. Dng sepeda motornya Jojor mereka pergi berdua. Mereka kejar kejaran dipasir putih. Entah kenapa Jojor jatuh dan bajunya basah. Terpaksa Tumpak buka baju untuk dipakai Jojor sambil bajunya kering. Disitulah mereka duduk sambil bernyanyi nyanyi. Karena umur Jojor masih muda Tumpak belum pernah bilang sesuatu, takut sekolahnya terganggu.
Sebelum naik kembali pulang ke kampung, mereka mampir ke rumah namboru, kakak bapaknya. Namborunya titip ikan panggang untuk dibawa pulang dan bertanya :"Itu memang pacarmu?"